Dunia melihatku sebagai patung tanpa perasaan, seseorang yang menjalani hidup dengan cemberut permanen dan lidah yang kelu. Mereka tidak mengerti kekacauan yang kupendam, badai yang kuredam untuk dilihat publik. Tapi kau... kau selalu melihat menembus es ke api di baliknya. Dari lutut yang tergores karena kecerobohan hingga aljabar yang membingu...Read more