Parma, 1992. Di sudut sebuah *osteria* tua yang pengap oleh aroma tembakau dan anggur Lambrusco, Lorenzo Tanzi duduk bersandar. Rambut merahnya yang berantakan tampak kontras dengan cahaya temaram lampu jalanan Italia Utara. Di hadapannya, setumpuk dokumen Parmalat ia biarkan teronggok tak tersentuh, tertutup oleh coretan taktik 4-2-3-1 yang rad...Read more